Aliansi Bebas Api Mengadopsi Program RGE

Aliansi Bebas Api Mengadopsi Program RGE

Image Source: Tribun Pekanbaru

http://pekanbaru.tribunnews.com/2017/03/15/fire-free-alliance-sambut-sime-darby-dan-ioi-group-jadi-anggota-baru

            Kebakaran lahan dan hutan merupakan problem pelik. Untuk mengatasinya dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Inilah esensi pendirian Aliansi Bebas Api (ABA) yang diinisiasi oleh sejumlah perusahaan termasuk Royal Golden Eagle. Bahkan, program andalan anak perusahaan RGE turut diadopsi oleh kegiatan tersebut.

            ABA merupakan gabungan dari dari sejumlah pemangku kepentingan yang ingin membantu menangani kebakaran lahan dan hutan di Indonesia secara sukarela. Mulai hadir pada Februari 2016, ABA didirikan oleh dua anak perusahaan RGE, April Group dan Asian Agri, bersama sejumlah pihak lain mulai dari IDH, Musim Mas, PM.Haze, Rumah Pohon, hingga Wilmar.

            Tujuan pendiriannya tak lepas dari misi untuk mencegah hingga mengatasi kebakaran lahan dan hutan. Kolaborasi dari berbagai pihak tersebut diharapkan akan memperluas jangkauan hingga menambah sumber daya dalam pelaksanaan pencegahan dan penanganan api.

            “Program ABA ini menunjukkan bagaimana sektor swasta bermitra dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil dapat meningkatkan area bebas api melalui tindakan sukarela,” kata Lucita Jasmin, Direktur APRIL untuk Sustainability & External Affairs. ” Kolaborasi di bawah naungan ABA akan membantu memperluas keberhasilan strategi pencegahan kebakaran dengan area yang lebih luas.”

            Bagi Royal Golden Eagle, bergabung dengan ABA bukanlah hal aneh. Grup yang didirikan dengan nama Raja Garuda Mas ini telah lama aktif dalam usaha pencegahan sampai penanganan bencana kebakaran. Mereka telah biasa melakukannya hingga akhirnya menelurkan sebuah program terobosan dalam manajemen api berupa program Desa Bebas Api.

            Kegiatan ini pantas disebut sebagai paradigma baru dalam penanganan problem kebakaran lahan dan hutan. Sebelumnya, fokus dalam masalah tersebut adalah reaksi ketika bencana sudah terjadi. Namun, Royal Golden Eagle maju selangkah. Dengan program Desa Bebas Api, mereka justru hendak mengantisipasi agar kebakaran tidak terjadi.

            Dimulai pada 2015, program Desa Bebas Api mengajak masyarakat untuk ikut aktif menjaga lingkungannya dari ancaman kebakaran. Royal Golden Eagle berinisiatif memberikan insentif bagi sejumlah desa yang berhasil menjaga wilayahnya bebas dari kebakaran. Dana sekitar 50 hingga 100 juta rupiah akan diberikan kepada desa dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakatnya. Desa bisa memakainya untuk memberdayakan warganya atau malah membangun infrastruktur yang dibutuhkan.

Ternyata kegiatan ini akhirnya diadopsi oleh ABA. Hal itu tidak lepas dari kesuksesan yang diraih oleh Royal Golden Eagle sesudah melaksanakan program Desa Bebas Api. Berdasarkan hasil survei APRIL Group, program ini berhasil menurunkan kebakaran yang terjadi di desa-desa yang berpartisipasi hingga 90 persen jika dibanding dengan tahun 2014. Padahal, saat itu iklim di Indonesia dianggap sedang buruk akibat El Nino.

Semua itu membuat ABA tidak ragu untuk mengadopsi program Desa Bebas Api. Mereka menjalankannya sembari berbagi pengalaman dan praktik-praktik terbaik tentang bagaimana kerjasama dan keterlibatan dengan masyarakat dapat melindungi hutan dari risiko kebakaran yang tinggi.

Dalam wadah ABA, para anggota juga bersama-sama berkomitmen untuk berkolaborasi dan berbagi pengetahuan, informasi dan sumber daya yang ada untuk melaksanakan inisiatif pencegahan kebakaran yang digagas April Group tersebut. Mereka mampu meningkatkan pemantauan, pendeteksian, serta penekanan titik api sehingga kebakaran lahan dan hutan bisa diantisipasi.

“ABA memberikan wadah untuk membantu meningkatkan Program Desa Bebas Api dan memungkinkan perusahaan-perusahaan lainnya serta LSM-LSM untuk berkolaborasi dan berbagi praktik-praktik terbaiknya,” ujar Direktur Royal Golden Eagle, Anderson Tanoto.

PROGRAM LAIN

Royal Golden Eagle

Image Source: April Dialog

http://www.aprildialog.com/id/2016/02/04/grup-april-memperpanjang-program-sukses-desa-bebas-api-di-riau/

    ABA tidak hanya mengadopsi Desa Bebas Api dan menjadikannya sebagai satu-satunya kegiatan. Mereka juga memiliki beragam program lain yang dijalankan demi perlindungan lahan dan hutan dari kebakaran.

            Tak kurang dari lima program lain yang mereka jalan. Pertama adalah pembentukan Village Crew Leader (VLC). ABA merekrut sejumlah orang dari masyarakat lokal sebagai VLC. Merekalah yang menjadi garda terdepan dalam penanganan masalah kebakaran lahan dan hutan.

            VLC nantinya akan mendeteksi ancaman kebakaran sejak dini. Mereka juga yang akan menyebarkan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membakar untuk membuka lahan baru. VLC bisa dihubungi oleh para petani ketika membutuhkan bantuan untuk mengolah lahan pertaniannya.

            Program ini berkaitan erat dengan kegiatan ABA lainnya, yakni pendampingan sistem pertanian berkelanjutan. Harus diakui, selain faktor alam, tangan manusia kerap menjadi pemicu kebakaran. Salah satunya dengan membuka lahan pertanian anyar lewat membakar.

Berpegang terhadap kesuksesan RGE dalam program Desa Bebas Api, ABA berupaya memberikan alternatif cara baru yang lebih ramah lingkungan. ABA mendampingi dan mengajari cara-cara bertani yang baik dan bertanggung jawab. Wujud nyatanya ialah dukungan beragam peralatan dan mesin pertanian. Selain itu, ABA juga memfasilitasi petani supaya mendapat bimbingan dari para pakar asal Universitas Riau.

Kegiatan penyadaran terhadap bahaya api juga menjadi fokus kegiatan ABA. Mereka memiliki program yang disebut Community Fire Awareness yang bertujuan mensosialisasikan ancaman dan kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran. Untuk melakukannya, ABA memasang spanduk, pamflet, hingga mengadakan seminar.

Adapun sebagai langkah untuk memonitor kondisi udara, ABA juga melakukan upaya pemantauan kualitas udara. Di sejumlah titik dipasang alat pemantau kualitas udara. Tujuan pemasangannya adalah untuk memberikan informasi yang tepat bagi masyarakat serta memberi peringatan ketika kualitas udara memburuk. Ini dibutuhkan sekali bagi masyarakat agar kesehatan mereka terus terjaga.

Selain berinisiatif mengagas program sendiri maupun mengadopsi dari Royal Golden Eagle, ABA membuka kesempatan bagi publik untuk berpartisipasi. Siapa pun dibebaskan untuk memberikan usulan apa saja yang berguna dalam upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan. Nantinya kegiatan itu bisa menjadi proyek perintis yang dilakukan oleh ABA.

Sampai saat ini, langkah ABA telah berbuah positif. Berdasarkan Laporan Ulasan Anggota ABA 2016, para anggotanya telah secara cepat memperluas jangkauan upaya pencegahan kebakarannya ke 218 desa di sejumlah daerah di Indonesia. Dari jumlah itu di dalamnya termasuk 77 desa yang telah mendaftarkan diri ke perusahaan-perusahaan anggota ABA untuk terlibat dalam program Desa Bebas Api yang intensif pada tahun 2016.

Dengan demikian terjadi peningkatan hingga 756% dalam jumlah desa yang berpatisipasi jika dibanding sejak Program Desa Bebas Api yang hanya melibatkan sembilan desa pada pertengahan tahun 2015. Akibatnya penurunan insiden kebakaran dari tahun 2015 hingga 2016 sangat signifikan. Jumlahnya mencapai 50 hingga 90 persen.

Setahun setelah digulirkan, ABA juga berhasil menarik anggota baru. Aliansi yang ikut digagas oleh RGE ini sekarang memasukkan Sime Darby dan IOI Group sebagai anggota baru pada Maret 2017. Tentu saja ini merupakan pencapaian positif karena menambah luas jangkauan ABA.

RGE pun tetap bersemangat dalam bekerja bersama para anggota ABA lain dalam menjaga lahan dan hutan Indonesia dari ancaman kebakaran. Ini selaras dengan prinsip kerja yang di dalam grup yang didirikan dengan nama Raja Garuda Mas ini. Mereka diwajibkan untuk aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Akibatnya operasional perusahaan diharuskan bermanfaat dalam perlindungan lingkungan.

Sumber : https://www.facebook.com/SukantoTanoto/

Kolom Diskusi

Advertisement